Minggu, 31 Juli 2016

Download DAPODIK Versi 2016

Posted by SDN Sidomulyo 1 Kebonagung On 00.37

Tim Dapodikdasmen telah merilis Aplikasi Dapodik 2016 sebagai langkah tindak lanjut untuk menyatukan Aplikasi Dapodik (front-end) untuk jenjang Pendidikan Dasar (Dapodik SD/SMP/SLB) dan jenjang Pendidikan Menengah (Dapodik SMA/SMK). Pada Aplikasi Dapodik 2016 terdapat beberapa pembenahan yang cukup siginifikan dalam hal data referensi, metodologi registrasi, mekanisme memasukkan data GTK baru, pengaturan kurikulum dan pembelajaran. Pembenahan-pembenahan tersebut sebagai upaya dalam melakukan sinkronisasi aturan/regulasi, prosedur, dan mekanisme pemanfaatan data dari Dapodik untuk transaksional di Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, transaksi BOS, PIP dan lainnya.  Diharapkan dengan pembenahan ini akan semakin meningkatkan kualitas data di Dapodik dalam mendukung semua transaksional di lingkungan Kemendikbud.
Pembaruan pada Aplikasi Dapodik 2016 selain dilakukan di sisi  front-end, juga dilakukan pembaruan pada database, yang telah menggunakan database versi 2.54. Maka secara teknis Aplikasi Dapodik versi sebelumnya (Dapodik SD/SMP/SLB 4.1.1 dan Dapodik SMA/SMK 8.4.0**) tidak dapat langsung di-upgrade ke Dapodik 2016, akan tetapi harus melakukan install ulang. Oleh karenanya Aplikasi Dapodik 2016 dirilis hanya dalam bentuk INSTALLER Dapodik 2016 (tidak ada versi UPDATER).

Download Dapodik Versi 2016, Bisa di Download Disini : DOWNLOAD DAPODIK 2016
Panduan Manual juga bisa di Download Disini : PANDUAN DAPODIK V. 2016

 
Aplikasi Dapodik akan senantiasa dilakukan pembenahan, penyempurnaan dan update seiring perkembangan dan tuntutan serta penyesuaian terhadap perubahan dan perkembangan regulasi. Untuk itu, kami senantiasa mengingatkan agar sekolah terus meningkatkan kualitas data Dapodik baik secara kuantitas maupun kualitas.


 Tampilan Awal Registrasi DAPODIK VERSI 2016


Salam Satu Data



Kamis, 16 Juni 2016

Ramadhan Bulan Pendidikan

Posted by SDN Sidomulyo 1 Kebonagung On 22.51

Bulan suci Ramadhan sudah sudah datang berkunjung, seluruh umat Islam di belahan bumi mana saja pasti akan menyambut kunjungannya dengan penuh suka cita. Tak terkecuali kita di Kota Tangerang, tentu amat bersyukur dan berucap Alhamdulillah karena kita masih bisa bertemu kembali dengan bulan Ramadhan yang penuh dengan kasih sayang dan ampunan dari Allah SWT. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Sesungguhnya telah datang kepadamu bulan Ramadan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan atas kamu berpuasa padanya." (HR Ahmad). 


Dalam hadits lain dari Abi Sa'id al-Khudri ra. menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: "Tak ada seseorang yang berpuasa sehari saja karena Allah, melainkan Allah SWT akan menjauhkan wajahnya dari api neraka dalam jarak tujuh puluh tahun." (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau juga menganjurkan umatnya untuk menyambut bulan Ramadhan ini dengan semangat kegembiraan. Dan hal ini amat wajar sekali, mengingat bulan Ramadhan merupakan penghulu dari segala bulan (sayyidusyhur) yang di dalamnya terkandung banyak keutamaan yang tidak ada dalam bulan-bulan lain.

Bulan Ramadhan bisa diibaratkan sebagai sekolah khusus di mana tahun ajaran barunya selalu dibuka setiap tahun dengan standar kompetensi yang dijadikan acuan adalah agar umat Islam sebagai peserta didik mampu menjadi hamba-hamba yang bertaqwa. Sementara kompetensi dasar yang harus diupayakan adalah agar umat Islam mampu menahan diri dari segala yang membatalkan sejak terbit fajar hingga matahari terbenam di ufuk barat. Ketika umat Islam mengikuti dengan benar atauran-aturan dalam sekolah Ramadhan sesuai yang telah ditetapkan dalam silabus Tuhan, maka ia akan lulus dengan menyandang gelar muttaqin.

Banyak ulama salafusshalih yang memberikan penjelasan tentang hakikat bulan Ramadhan sebagai bulan pendidikan, di antaranya adalah Syaikh Raghib As-Sirjani dalam buku‘Ramadhan wa Bina’ul Ummah’ menyebutkan, bahwasanya di dalam bulan Ramadhan terdapat banyak kandungan nilai-nilai pendidikan dan pengajaran (durusuttarbiyah wata’lim) yang harus dipahami dan dijalankan oleh kaum muslimin agar pesan-pesan Allah SWT melalui kehadiran bulan Ramadhan dapat dijadikan medium dan sarana efektif untuk mendekatkan diri (taqarrub ilallah).

Pertama, bulan Ramadhan mendidik kaum muslimin untuk menunaikan pesan-pesan, dan perintah-perintah Allah SWT secara total dan penuh ketaatan. Sebab aturan main, petunjuk teknis dan pelaksanaannya sudah teramat jelas termaktub di buku pegangan umat Islam, baik di dalam al qur`an, hadits hingga penjelasan-penjelasan para ulama salaf maupun khalaf.  Umat Islam hanya dituntut melaksanakan semuanya dengan total. Pertanyaan-pertanyaan kritis tentang segala hal yang berlaitan dengan pesan-pesan agama hanya dimaksudkan sebagai upaya semakin meneguhkan keyakinan bukan malah mencuatkan keraguan terhadap kebenaran ajaran-ajaran agama.

Kedua, bulan Ramadhan mendidik kaum muslimin agar mampu mengendalikan syahwatnya dan menahan nafsunya dari segala kecenderungan kepada perbuatan ataupun perilaku-perilaku yang berpotensi membuat ibadah di dalamnya menjadi rusak. Ketika Ramadhan kaum muslimin dilarang melakukan segala hal yang pada hakikatnya pada bulan lain termasuk halal dilakukan pada siang hari. Seperti makan, minum, dan berhubungan suami-istri. 

Oleh karenanya, seorang muslimyang telah mendapatkan pendidikan pada sekolah Ramadhan, diharapkan lebih mampu untuk menahan diri dari makanan dan minuman yang tidak jelas asal-usulnya, serta mampu untuk menjaga diri dari pergaulan lawan jenis yang diharamkan. Sekolah ramadhan, pada hakikatnya mendidik agar kaum muslimin yang terdaftar sebagai peserta didik di dalamnya mampu memutus dominasi syahwat. Syahwat bisa kuat dengan makan dan minum, dan setan selalu datang melalui pintu-pintu syahwat. Maka dengan bersekolah secara benar di sekolah Ramadhan syahwat dapat dipersempit geraknya.

Ketiga, sekolah Ramadhan mendidik kaum muslimin agar menahan kecenderungan nafsu yang merusak dan didorong untuk memiliki kesanggupan menahan amarah. Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman, ”Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Karena, sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Maka, apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, bersuara tidak pantas, dan tidak mau tahu. Lantas jika ada seseorang yang menghinanya atau memeranginya (mengajaknya berkelahi), maka hendaklah ia mengatakan, ’Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari Muslim). 

Kelima, Ramadhan mendidik kaum muslimin agar memiliki rasa persatuan, persaudaraan, dan kasih sayang. Segenap kaum muslimin di seluruh penjuru dunia akan berpuasa pada hari yang sama dan berbuka pada hari yang sama pula. Mereka akan mulai berpuasa pada saat yang sama, ketika fajar, dan berbuka di saat yang sama pula, yaitu ketika maghrib. Ramadhan tidak membedakan antara yang kaya dan miskin, penguasa dan rakyat biasa. Sungguh luar biasa, ada jiwa kebersamaan yang memasuki hati kaum muslimin pada bulan Ramadhan.

Keenam, Ramadhan mendidik kaum muslimin merasakan penderitaan dan kesulitan orang lain. Kaum muslimin merasakan penderitaan lapar dan dahaga untuk waktu tertentu pada siang Ramadhan. Ia merasa lapar dan menderita seperti yang sering dirasakan fakir miskin atau seperti yang dikatakan Ibnu Qayyim, ”Puasa dapat mengingatkan bagaimana rasanya perut keroncongan dan dahaga yang membakar dan sering dirasakan para fakir miskin”. Sehingga, di saat ia melihat orang lain serba kekurangan, maka tersentuhlah hatinya untuk berbagi kepada mereka. 

Setelah sebulan penuh dididik Ramadhan, ilmu pun didapat, maka langkah selanjutnya adalah mengamalkannya di sebelas bulan berikutnya. Islam menginginkan orang yang berilmu mengamalkan ilmunya demi kebaikan diri dan orang lain. Ilmu pada seseorang ibarat sebatang pohon dan amal sebagai buahnya. Perintah belajar dan menuntut ilmu bertujuan meningkatkan kuantitas dan kualitas amal muslim. Dengan amal itu pula, muslim memperoleh kebahagiaan di dunia dan selamat di akhirat. Wallahu a’lan bishowwab!

Bupati Pacitan SIDAK Pelaksanaan UN di SD Negeri Sidomulyo I

Posted by SDN Sidomulyo 1 Kebonagung On 22.51


Bupati Pacitan Indartato bersama didampingi staff dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan melakukan inspeksi mendadak (Sidak) Ujian Nasional tingkat Sekolah Dasar ke sejumlah sekolah di Kabupaten Pacitan. Dilembaga pendidikan dasar itu Bupati memantau kesiapan siswa menghadapi ujian.

Meski hanya bisa mengintip dari celah pintu dan jendela, namun kehadiran orang nomor satu di Pacitan itu, seakan memberi bukti keseriusan pemerintah daerah menyukseskan pelaksanaan Ujian Nasional di Pacitan.
Indartato mengaku senang sebab sejauh ini tidak ditemukan kendala terkait distribusi soal maupun pelaksanaan ujian. Dia berharap, dengan kesiapan yang baik dari siswa, lulusan tahun ini dapat mencapai 100 persen. Demikian pula nilai yang diperoleh juga baik sehingga dapat melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.

Bupati Pacitan Indartato memberikan apresiasi sejumlah sekolah dasar di Pacitan atas inovasinya sehingga pelaksanaan ujian berjalan lancar. Demikian disampaikannya di sela melihat langsung Ujian sekolah tingkat SD/MI di SD Negeri Sidomulyo I Kecamatan Kebonagung.

Inovasi dimaksud antara lain pemasangan daftar siswa peserta ujian lengkap dengan foto di tiap pintu ruangan. Keberadaan kelengkapan tersebut, menurut bupati, sangat membantu pemantauan pelaksanaan ujian. Sejauh ini terobosan semacam itu baru sebatas insiatif penyelenggara sekolah. Namun ke depan dinas terkait akan menjadikannya program sosialisasi.

Selain melihat langsung kegiatan ujian sekolah di beberapa SD di kecamatan Kebonagung, bupati dan rombongan juga menyaksikan pelaksanaan Unas di Madrasah Ibtidaiyah. Yakni di MI Muhammadiyah Gawang Kecamatan Kebonagung, dan MI Muhammadiyah Jetak, Kecamatan Tulakan. Di ke dua sekolah tersebut Unas hanya diikuti masing-masing 6 dan 9 siswa.

Rabu, 27 April 2016

Festival Lomba Seni Budaya Gugus 03 Kecamatan Kebonagung di SD Negeri Sidomulyo I

Posted by SDN Sidomulyo 1 Kebonagung On 22.29

Untuk meningkatkan prestasi pelajar di bidang seni dan budaya, UPT TK dan SD Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan menyelenggarakan Festival Lomba Seni Budaya tingkat Sekolah Dasar se-Kecamatan Kebonagung.
Beragam lomba diikuti murid dari kelas 1 sampai kelas 5 diadakan untuk menjaring siswa berprestasi dibidang seni. Menurut Ketua Penyelenggara, terdapat beberapa cabang lomba yang mana diadakan seleksi dari masing-masing gugus yang ada di Kecamatan Kebonagung dan juara dari seleksi gugus akan diikutkan dalam Festival Seni Budaya Kecamatan Kebonagung.
Cabang lomba itu antara lain kreativitas seni puisi, menyanyi, melukis, pidat dalam bahasa jawa dan lain sebagainya.
Sekolah Dasar Negeri Sidomulyo I Kecamatan Kebonagung mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah untuk wilayah Gugus 03 Kebonagung. Dalam sambutanya Wasino selaku Ketua Gugus 03 Kecamatan Kebonagung mengatakan, tujuan acara yang setiap tahun diadakan ini sangat efektif untuk meningkatkan kreativitas siswa di bidang seni. Selain itu juga dapat menumbuhkan kecintaan siswa-siswi dalam melestarikan budaya tradisional.
"Tujuan utama kegiatan ini adalah mengembangkan bakat dan memberikan ruang bagi kreativitas dan potensi siswa di bidang seni dan sastra. Siswa bisa diwadahi dalam mengangkat potensi yang dimilikinya, "ucapnya.
Wasino mengaku antusiasme peserta baik dari pihak sekolah maupun pelajar sangat tinggi karena. Sejak acara dimulai jam 7 pagi, para peserta dari tiap cabang lomba saling unjuk gigi menciptakan hasil karya yang terbaik dihadapan juri.
"Penampilan semua peserta sangat baik, terutama menyanyi dan pidato dalam bahasa jawa. Semua bagus-bagus tapi tetap harus ada pemenangnya, " tuturnya.
Pihaknya mengingatkan pada para peserta bahwa soal menang atau kalah itu urusan belakang karena yang terpenting adalah bisa memberikan pengalaman bagi peserta didik serta melatih rasa sportivitas dalam diri para siswa-siswi Sekolah Dasar.
"Yang penting keluarkan dulu semua kemampuan, karena kalah dan menang itu hal biasa. Bagi yang menang akan kami sertakan dalam lomba tingkat Kecamatan, " tambannya.



 






















Dokumentasi oleh
Tim Perpustakaan dan Informasi SDN Sidomulyo I Kebonagung
Hanung Prasetya Utomo, S.I.Pust

Kamis, 14 April 2016

Cerita Sejarah Pacitan - ASAL USUL DESA SANGGRAHAN

Posted by SDN Sidomulyo 1 Kebonagung On 23.23


KI AGENG BANDUNG DAN PANJI SANIAYANGRANGIN
(ASAL USUL DESA SANGGRAHAN DAN LOROK)
Cerita Sejarah dari Kabupaten Pacitan

Hari masih sore, namun mendung hitam tebal membuat sore itu seakan telah tengah malam. Rembulan yang sedang purnama sama sekali tidak tampak. Suasana ini semakin sepi dan gelap pekat, segelap dan sepekat hati, pikiran Den Mas Bandung sore itu. lalsandarkan bahunya ke balai-balai tempat ia mengajarkan pengetahuan ilmu agama terhadap anak-anak dan remaja. Pikiran dan telinganya teringat, terngiang pesan orang tuanya di tanah Periangan sebelum mereka mangkat.
“Ngger... Ayah dan ibunda berpesan, suatu saat nanti jika ayah dan bundamu telah tiada hidup rukun dan damailah bersama adikmu. Sebagai putra tertua kau akan meneruskan tahta di tanah Periangan ini. jadilah penguasa yang arif, biiaksana, mengayomi kawulo dasih demi ketenteraman dan kedamaian masyarakat!"
“Daulat ayahanda akan hamba laksanakan. Hamba mohon doa restu ayah-bunda.”
Akan tetapi apa yang terjadi? Setelah ayah dan ibunya mangkat adik satu-satunya berambisi menggantikan. Den Mas Bandung tahu sebagai putra mahkota seharusnya dialah yang menggantikannya. Namun dia memilih mengalah daripada terjadi pertumpahan darah dengan adiknya. la berusaha menepati pesan dan wasiat orang tuanya tetap hidup rukun dan damm bersama adiknya, sehingga memilih mengembara dan sampai di wilayah keraiaan Pajang sampai sekarang. Untuk menghibur galau hatinya dialunkan tembang macapat “maskumambang" dengan Iirik yang sangat menyentuh.
Urip ira pinter samubarang kardi
Saking ibu rama
Ing batin saka Hyang Widhi
Mulane wajib sinembah
Sejatine sembah bhekti marang gusti
Tuwin ibu rama
Iku tindak bener becik
Ora ldmung rota krama
Hidupmu pandai/mengerti terhadap banyak hal
Dari ibu dan bapak
Di dalam batin dari Tuhan Yang Maha Kuasa
Makanya wajib disembah
Sebenarnya sembah dan bakti terhadap Tuhan YME
Dan terhadap ibu
ltu perilaku yang benar dan baik
Tidak hanya bertata-krama

Dua puluh tembang maskumambang itu terasa meringankan beban berat akibat pengalaman dan kenangan masa Ialu. Setiap ada kesedihan, kegalauan ia lantunkan tembang-tembang yang dapat menghibur hatinya; karena dia begitu mencintai tembang-
tembang jawa walau dilahirkan di tanah Sunda. Tersebutlah seorang pemuda yang ikut memperdalam ilmu agama dan berguru kepada Ki Ageng Bandung. la bernama Panji Sanjayangrangin. Ia seorang pemuda yang tekun belajar dan selalu setia kepada gurunya.
“Sanjaya...sore ini sengaja kau kupanggil karena ada sesuatu yang harus aku sampaikan padamu."
“Baiklah Ki Ageng." Ki Ageng sebutan terhadap Den Mas Bandung.
“Begini..." Ki Ageng Bandung membenahi tempat duduknya. “Kau tahu, aku telah menetap di wilayah Pajang ini sejak beberapa tahun silam sehingga telah saatnya aku mesti meneruskan pengembaraanku. Padepokan ini aku serahkan kepadamu. Tuntunlah saudara-saudaramu, adik-adikmu dalam belajar!"
“Ki Ageng akan mengembara kemana? Kemana pun Ki Ageng pergi jika diperkenankan aku akan selalu menyertai. Belum cukup pengalaman dan pengetahuan yang harus aku pelajari dari Ki Ageng. Lagi pula bukankah aku dapat membantu Ki Ageng sesuai kemampuan?"
“Sudahlah... Tinggalah kau di tempat kelahiranmu. Kau akan dapat mengabdikan diri di keraiaan Pajang ini."
“Apakah yang dapat aku lakukan tanpa Ki Ageng Aku hanya seorang hamba bukan bangsawan atau prajurit yang dapat membela negara dan kerajaan."
“Kau harus tahu Sanjaya  bahwa pengabdian tidak hanya dapat dilakukan oleh pejabat, orang berpangkat, atau konglomerat. namun juga dapat dilakukan oleh rakyat, orang melarat atau siapa pun. Berjuang itu bukan untuk mencari beras, baju dan uang, namun berjuang itu sebuah pengorbanan yang tulus, ikhlas tanpa pamrih. Pahlawan bukan hanya mereka yang gugur memanggul senjata membela bangsa di medan laga, akan tetapi semua perbuatan baik untuk kepentingan masyarakat, kepentingan bersama, bangsa dan negara; itulah jiwa kepahlawanan, lngat pesan para winasis dan leluhur kita dalam tembang Dhandhanggula berikut:
Dhuh nak angger padha dipun cling
Apa kang aran kapahlawanun
Dudu mung kar'na crane
jiwa tansah anggugu
Pakaryan utama Ian becik
‘Ra krona drajat pangkat
Lan sifat ngadigung
Ugo adigang-adiguna
Nanging sucining afi resiking budi
Mrih sedaya utamu
“Saniaya... tembang ini mengajarkan bahwa jiwa kepahlawanan ini didasari perbuatan baik. bukan karena derajat, pangkat, kedudukan apalagi sifat adigang, adigung, adiguna
sombong mengandalkan hartanya, kekuatannya, kekayaannya atau kepandaiannya."
“Lalu apa Ki Agengl"
"Yang utama sucinya hati, bersihnya budi dan itu semua bertujuan mendapatkan kebaikan."
“Ki Ageng mohon dimaafkan karena aku belum dapat melakukan seperti yang Ki Ageng pesankan. Oleh karenanya apapun yang terjadi dan kemana pun Ki Ageng pergi
mengembara Sanjaya akan menyertai."
“Mengapa niatmu begitu keras, tekatmu begitu bulat Sanjaya?“
“Sebab, aku masih harus belaiar dan menimba pengalaman dari Ki Ageng."
“Baiklah kalau begitu, besuk kita berangkat. Tetapi kau mesti ingat bahwa perjalanaan hidup yang akan kita lalui penuh liku-liku, banyak tantangan dan godaan. sanggupkah kau Sanjaya?"
Berapa lama perjalanan Ki Ageng Bandung dan Panji Sanjayarangin tidak diceritakan, akan tecapi keduanya telah sampai di Kadipaten Ponorogo yang saat itu penguasanya Bathara Katong. Mereka mengabdi kepada penguasa Ponorogo ini. Sebelum itu, di Ponorogo kedatangan Ki Ageng Ampak Baya dan Ki Menak Sopal. Atas seizin penguasa Ponorogo kedua orang ini membuka hutan. Ki Ampak Baya membabat hutan di wilayah Pacitan, sedang Ki Menak Sopal membuka hutan di sebelah timur Ponorogo yang dalam perkembangannya wilayah ini bernama Trenggalek. Ki ageng Ampak Baya kemudian terkenal dengan nama Ki Ageng Posong memimpin perdikan ketiga, sebab tanah perdikan pertama berlokasi di jati dan tanah perdikan kedua dipimpin oleh Ki Ageng Petung di Rejasa. Sedang tanah perdikan keempat dipimpin/didirikan oleh Syeh Maulana Maghribi, seorang mubalig penyebar Islam bercempat tinggal di Duduwan.
Dengan datangnya Ki Ageng Petung, Ki Ageng Posong dan Syeh maulana Maghribi di Pacitan terjadi lslamisasi. Pendatang baru ini harus berhadapan dengan penguasa setempat yaitu Ki Ageng Buwono Keling yang tetap mempertahankan tradisi-tradisi Hindu-Budha.
Pengabdian Ki Ageng Bandung dan Panii Saniayangrangin kepada penguasa Ponorogo mendapatkan sambutan baik, dan bahkan telah beberapa tahun mereka menunjukkan kesetiannya sehingga suatu hari mereka dipanggil menghadap.
“Ki Ageng Bandung dan kau Panji, kesctiaanmu terhadap Ponorogo tidak saya ragukan. Sebenarnya saya senang kalian berdua tinggal di sini, akan tetapi sebagai wujud kepercayaan dan rasa kasihku kalian saya serahi wilayah sebelah tenggara Ponorogo. Bukalah hutan di sana. Sanggupkah kalian?"
“Hamba sanggup Paduka!" sahut Ki Ageng Bandung dan Panji Sanjaya hampir bersamaan.
“Kami hanya dapat menghaturkan terima kasih dan mohon doa restu!"
“Tapi ingat bahwa di Rejasa, Posong, Duduwan telah ada yang memiliki. Bukalah hutan di sebelah timur."
Ki Ageng Bandung dan Panji Sanjayangrangin disertai beberapa orang dari Ponorogo telah memasuki wilayah yang akan dibuka.
“Sanjaya...mari kita membuat pesanggrahan di sini untuk tempat peristirahatan. jika nanti ada tempat yang lebih baik untuk kita diami kita berpindah, namun jika tidak di sini pun tempatcnya sudah lumayan." Sanjayangrangin dan lainnya menurut perintah Ki Ageng Bandung. Mereka membabat hutan dan membuatt rumah untuk pesanggrahan. Sampai sekarang tempat ini bernama Sanggrahan dan termasuk wilayah Desa Ketro Wonojoyo, Kecamatan Kebonagung, Pacitan.
Pembabatan hutan oleh Panji Sanjayangrangin diteruskan dimulai dari selatan yaitu di sekitar Gunung Kunir. Akan tetapi setelah dibabat tempat ini tidak rata penuh dengan bukit dan lembah. Pembabatan semakin ke utara. Di sini tempatnya rata yang sampai sekarang dinamakan Desa Nglaran (dari welaran = pelebaran) yaitu pelebaran dari wilayah Gunung Kunir. Dengan seizin Ki Ageng Bandung Nglaran ditempati Panji
Sanjayangrangin, sedang Sanggrahan ditempati oleh Ki Ageng landung.
Suatu sore Panji Sanjayangrangin bertandang ke Sanggrahan. Di ruang depan ia kelihatan sedang berbincang dengan Ki Ageng Bandung.
“Pembukaan hutan harus kita teruskan Sanjaya."
“Lantas wilayah sebelah mana yang harus kita buka, Ki?
Bukankah kita telah menjadikan beberapa pedusunan dan telah menemukan tempat tinggai?" '
“Benar Sanjaya, namun kita harus ingat bahwa pembukaan hutan ini bukan hanya untuk diri sendiri, kita mesti mengingat anak cucu kita nanti. Lagipula selagi kita masih kuat marilah kita lakukan sesuatu untuk kemaslahatan orang banyak."
Pagi-pagi benar setelah sholat subuh Ki Ageng Bandung dan Panii Saniayangrangin telah memasuki hutan di sebeiah timur. Daerah yang mereka temukan merupakan perbukitan yang kurang menarik namun wiiayah Lorok (saat itu belum dinamakan Lorok) menjadi perhatian sebab bagian yang rata lebih luas, sumber air banyak walaupun di sana-sini banyak rawa. Menurut perhitungan Ki Ageng Bandung daerah ini sangat subur. Ki Ageng Bandung dan Panii Sanjayangrangin sepakat akan tinggai  situ. Oleh Karena itu, pembukaan hutan dimulai dari lereng bukit sebelah selatan dan perkembangan berikutnya daerah yang dinamakan Dusun Bandung. Sesepuhnya Ki Ageng Bandung dan Panji Sanjayangrangin juga ikut tinggai di situ.  Ki Ageng Bandung lama tidak sowan ke Ponorogo; pada-hal berkat kemurahan Adipati Ponorogol mereka dapat membuka hutan dan menjadikan pedusunan yang ramai. Oleh karena itu, Ki Ageng membulatkan tekat untuk sowan ke Ponorogo. Dan benar juga, suatu sore ia sudah berada di pendopo Kadipaten Ponorogo.
“Assalamu ‘alaikum ndoro Adipati."
“Wa'alaikum salam. Ooh... Ki Ageng Bandung. Silahkan paman!"  (Bersambung).....

Minggu, 03 April 2016

Hasil Try Out Memuaskan, Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan Optimis

Posted by SDN Sidomulyo 1 Kebonagung On 20.59

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Pacitan, Sakundoko menyatakan siap menggelar agenda Ujian Nasional (UN) di semua sekolah di Pacitan. pihaknya pun optimistis hasil UN pada tahun ini lebih baik dibandingkan pada tahun sebelumnya.
Menurut Sakundoko, rasa optimisme ini cukup beralasan karena dari hasil pengayakan soal hasilnya cukup memuaskan. Yang terpenting menurut Sakundoko adalah dukungan dan bimbingan orang tua selalu ada untuk putra putrinya.
Pada tahun ini, jumlah peserta UN di Pacitan adalah 14.419 siswa, termasuk sekolah dibawah kantor kementerian agama. Dengan rincian, SMA 1.272, MA 796 dan SMK 3.292. Sedangkan SMP 6.253 serta MTs1.864.
Sebagaimana diketahui, pada tahun 2014, secara kuantitatif tingkat kelulusan siswa SMA mengalami kenaikan. Hal itu dapat dilihat dari semakin sedikitnya siswa yang tidak lulus. Diketahui, ada dua siswa yang tidak lulus pada tahun ini, sedangkan pada tahun lalu ada empat siswa yang dinyatakan tidak lulus.
Dua siswa dinyatakan tidak lulus karena nilai rata-rata mereka di bawah standar kelulusan. Masing-masing dari SMKN 3 Pacitan dan MA Muhammadiyah Ketro. Mereka jeblok pada mata pelajaran (mapel) matematika. Namun hal ini lebih baik dari tahun 2013 mengingat pada tahun lalu jumlah siswa yang tidak lulus sejumlah empat siswa.


Source : pacitanku.com